BAHAGIA VERSIKU

(Remia Yildiz)

 

Coba kutatap langit yang membiru, serasa indah bagi netra ini menatapnya, seolah ia sedang melentingkan semua masalahnya ke ambara yang sangat luas dalam memandangnya. Setidaknya lelahku berkurang sehabis menatap mahakarya NYA, momen yang telah lama aku abaikan akibat terlalu asik terbenam dengan deadline kantor. Sampai akhirnya lupa “apa sih sebenarnya tujuan hidup mu Hazi?”

 

Kerjaan benar-benar seperti air bah yang datang bertubi-tubi, dibalik berbagai deadline dari semua pekerjaan mayoritas sebenarnya bukan kapasitasku menyelesaikan itu semua. Hanya karena Hazi adalah seorang people pleaser, jadi bantuan yang tanpa pamrih itu malah makin hari makin menjadi suatu kewajibannya untuk harus diselesaikan sesuai tenggat waktu. Ya Allah…tolonglah aku, bebaskan dari belenggu yang menghambat kakiku untuk maju. Pfff, gimana dengan persiapan S3-ku coba??, pulang kantor udah lelah buat baca-baca jurnal topik risetku nanti, hikss? (Hazi bergumam dalam hati).

 

Kali ini Hazi udah mulai burnout, ia masih duduk tercekung di sudut sofa kamarnya, sambil mengevaluasi dirinya, apakah ia sudah terlalu melenceng jauh dari tujuan awal ia bekerja?? Percakapan batin dimulai:  Hai…Hazi….jangan keluar jalur terlalu jauh dan lama, nanti kamu akan susah balik lagi lho??? Coba deh inget lagi tujuan awalmu bekerjamu itu “AKTUALISASI DIRI”, bisa membahagiakan Papa Mama, Suamimu bangga, dan menjadi contoh anak semata wayangmu bahwa kamu itu adalah Ibu yang Hebat dan tangguh. Pekerjaanmu ini adalah sebagai bahan portofoliomu saat nanti mengajukan beasiswa S3 di negeri impianmu. Jadi jangan kelamaan ya berhentinya, karena waktu akan terus berjalan. Kenapa aku bilang berhenti, karena dah lewat berapa purnama aku udah gak pernah lagi membaca jurnal ilmiah, menulis sampai mandeg buat topik proposal risetku, pffff lellllaaahh sangatttt…..Apa gak cukup waktu 24 jam sehari buatmu sampe lupa dengan target awalmu??...OMG…!!! lupa harus mempersiapkan bahan riset, cari profesor, upgrade bahasa inggris dan referensi lain sebagai prasyarat untuk melanjutkan S3. Akhirnya gak kerasa air mata Hazi mengalir bukan karena sedih, tapi menyesali dirinya yang salah pengelolaan waktu selama ini.

 

Pagi hari yang cerah seperti biasanya, Hazi dan suami berangkat ke kantor memulai hari Senin di pertengahan oktober seperti biasanya. Dann, ada yang mulai berbeda dari Hazi, Ia sudah mengatur semua rencana, karena deadline pengumpulan beasiswa kurang dari 3 bulan lagi. “Abaa… (panggilan Hazi kepada Sang Suami), aku hari ini mau pulang tenggo yah, kalo Aba gak bisa aku bisa pulang duluan dengan taxi online”. Emang kenapa kok tumben gak mau pulang bareng?? (tanya balik Suami-Aba). Hazi: Iya, mau belajar IELTS dan cari-cari jurnal, kalo nyambi di kantor after office hour sambil nunggu Aba di lobby kantor takut malah gak fokus…Aba:” Oke deh, lagian aku juga pulangnya agak malam masih banyak meeting sama tim”. Akhirnya waktu terus bergulir sampai bulan Desember tiba, yaitu bulan dimana Hazi selesai menyiapkan semua berkas pengajuan beasiswanya. “Finally…Alhamdulillah selesai juga, setidaknya aku udah berusaha, masalah hasil kugantungkan semua pada Sang Pemilik Takdir…Dengan rasa tidak terlalu berharap, tetapi Hazi lega dan bahagia karena ia bisa merealisasikan targetnya untuk submit beasiswa impiannya ke UK.

 

Backward sejenak permisa…Hazi adalah seorang anak ketiga dari 4 bersaudara dan merupakan seorang istri Pejabat Ring 1 di Pemerintahan dan ibu dari 1 anak yang saat ini berjuang dalam proses aktualisasi dirinya. Ia bekerja di kota besar sudah hampir 2 dekade. Bekerja baginya sebenarnya bukan kewajiban baginya, tetapi bekerja dilakukan karena memang circle keluarga besarnya butuh aktualisasi diri dari pencapaian personal. Hal itulah yang membuatnya untuk tetap bekerja. Dulu saat Hazi sudah tidak kuat dengan politik kantor yang menggila akhirnya mengajukan surat pengunduran diri, tetapi pimpinan ingin dia tetap berkarya sehingga dipindah-tugaskan di departemen lain. Cita-citanya sebenarnya hanya ingin jadi “Dosen” di kampusnya sendiri yang bisa ia atur jadwalnya sesuka hati tanpa harus melewati drama kemunafikan setiap hari. Sehingga tibalah padanya suatu masa, Hazi harus keluar dari pusaran ini, tapi dengan cara elegan, karena di kantor Hazi sekarang sudah lumayan posisinya, sebagai Sekretaris CEO yang sangat diandalkan. Gimana gak diandalkan, Hazi segitu excitednya dengan pengetahuan, ia baru selesai menyelesaikan S2 nya dengan nilai Summa Cum-Laude. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan Hazi??? Hmmm…jika orang lain melihatnya mungkin dia dianggap tidak bersyukur, karena orang-orang lain mengganggapnya Hazi sudah hidup senang dan sangat berkecukupan. Tetapi, standar bahagia setiap orang memang berbeda-beda, standar bahagiaku adalah membuat keluargaku bahagia.

 

Seperti hari-hari biasanya yang selama beberapa tahun belakangan ini yang sudah diterapkan, Hazi tidak pernah makan bareng teman-teman kantornya, kemana-mana sekarang ia sendiri karena ia sudah sangat trauma mempunyai teman di kantor. Hal ini bukan tanpa sebab, tapi ada kejadian yang tidak akan pernah bisa Hazi lupakan olehnya…Dulu sebelum Hazi pindah di unit kerja sebelumnya bahwa Hazi dulu ada teman dekat satu kantor, tapi ternyata teman yang selama ini yang ia anggap sebagai sahabat ternyata berkhianat, 2 orang sahabat itu menjelek-jelekkan ke atasannya  Hazi. Sahabatnya itu ternyata sangat iri dan jahat dengan Hazi karena ia selalu menjadi kesayangan bossnya, karena apa-apa selalu Hazi yang diandalkan. Singkat cerita, parahnya lagi atasannya itu akhirnya terpengaruh dan dengan sangat tidak profesionalnya, bosnya itu membuat penilaian performa Hazi menjadi sangat buruk dan secara sepihak membunuh karakter Hazi yang selama ini memegang etos kerja yang baik serta kinerja yang bagus. Tapiii, ahhh sudahlah Hazi…hempaskan saja manusia sampah itu…!!! (gumamnya dalam hati, karena terkadang momen menyakitkan itu suka melintas random di pikirannya, sambil berdoa aku yakin Allah pasti akan membalas sakit hatiku ini cepat atau lambat). Dengan agak bergumam, suara Hazi mengeretak: Lihat saja nanti, semua ini akan kulakukan dengan kerja kerasku secara diam-diam dan biarkan kesuksesanku yang akan mebuat KEGADUHAN untuk mereka yang sudah berbuat zhalim padaku.

 

Tepatnya 2 bulan setelah Hazi mengirimkan berkas beasiswanya, yaitu Februari, Hazi sudah melalui tes wawancara dan tinggal menunggu hasilnya saja. Seperti hari biasanya, peran Hazi sebagai sekretaris memang sedang padat sekali, dokumen persetujuan banyak yang perlu diverifikasi, agenda pimpinan juga intens sekali. Saking sibuknya, Hazi pun sudah tidak peduli dan tidak sempat lihat sosmed, menggunakan HP hanya karena cek informasi di WA Group dan komunikasi dengan pimpinan maupun koleganya. Sesampainya di rumah tepatnya pukul 22.00 WIB, Hazi dan Suami langsung istirahat dan tidak banyak cerita apa-apa karena semua sudah sama-sama capek dan lelah menghadapi kemacetan dalam perjalanan kantor-rumah (ahh luar biasa). Hazi pun tidak mengingatnya jika hari ini adalah pengumuman penerima beasiswanya. Sebelum tidur, Hazi pun iseng untuk cek email di gawainya, tiba-tiba hilang rasa kantuknya karena terfokus pada inbox dengan tulisan “BOLD” yang belum terbaca dari “Gate Cambrige” dengan rasa dag dig dug berdegup kencang Hazi pun membuka emailnya…dannn isinya…Dear Mrs. Hazia Permata Sidi, Congratulation! On behalf the Bill and Melinda Foundation, I am delighted to offer you Gate Cambridge Scholarship. The Scholarship will enable you to pursue at PhD level at an Cambrigde University……Alhamdulillah ku langsung sujud syukur dan menangis sejadi-jadinya sambil teringat wajah kedua orangtua, anak dan suamiku, berita bahagia ini kupersembahkan untuk mereka Yaa Rabb, terima kasih Engkau mudahkan jalanku menimba ilmu kembali. Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam di penghujung bulan Februari. Sekejap pun Hazi ingat bahwa ini memasuki bulan baru              (01 Maret-hari ulang tahunnya), Masya Allah ini kado terindah untukku tahun ini, hadiah yang sudah lama ku tunggu-tunggu ternyata Sang Maha Kuasa memberikannya di waktu yang sangat tepat, skenario Mu terlalu Indah Yaa Rabb, hilang semua beban selama ini dengan membaca kabar bahagia ini. Memoriku tetiba memanggil semua orang-orang yang telah menyakitiku selama ini, kubacakan satu per satu dalam sanubari ku…Aku sudah memaafkan mereka Yaa Rabb. Karena hatiku terlalu mahal untuk menyimpan rasa sakit hati karena dizalimi, hatiku berhak bahagia. Belum selesai rasa bahagia ini, Suami pun memberikan kabar bahagia bahwa ia pun mendapat beasiswa dari kantornya di UK (kampus yang sama denganku). Ternyata selama ini suami, diam-diam menyiapkan sekolahnya ke luar negeri tanpa aku tau, beliau berkata: ini ku dedikasikan semua untuk keluargaku, semesta pun bertasbih melihat usaha kita. Akhirnya kamipun mengambil wudhu dan shalat tahajjud bersama sebagai ungkapan rasa syukur tak terhingga karena Allah masih sayang kepada kami apalagi kepada HambaNYA yang terzalimi.

 

“Sebenarnya yang bertanggung jawab atas rasa BAHAGIA adalah dirimu sendiri, jadi kejarlah rasa bahagia itu dimana, carilah sumbernya. BAHAGIA terbentuk bukan karena banyaknya harta yang kita punya, melainkan bahagia versiku adalah membuat orang-orang yang kusayangi BAHAGIA, BAHAGIA versiku adalah memaafkan orang-rang yang telah menyakitiku, berkat-rezeki-kesuksesan dalam hidupku ini merupakan doa-doa tulus dari orang-orang yang kusayangi, terima kasih atas anugerah ini Yaa Rabb. Perjalanan ini, tak semudah itu untuk dilewati, tetapi akan mudah dan ringan dilalui dengan support bersama orang-orang yang kusayangi”

 

 

Biodata Penulis

Remia Yildiz merupakan penulis yang ketertarikannya terhadap cerita dengan tema motivasi, edukasi dan fiksi. Reni percaya bahwa dalam setiap kisah memiliki banyak makna dan pelajaran yang dapat diambil hikmah atau pesan moralnya. Melalui karya dengan tema Bahagia Versiku ini, penulis berharap pembaca dapat mencari kebahagiaan sejatinya tanpa menjadikan kebahagiaan orang lain menjadi parameter kita. Bentuk bahagia mereka pasti tidak selalu sama dengan bentuk bahagiamu, jadi perjuangkanlah kebahagiaan versi terbaik dirimu yaa…Selamat membaca, Terima kasih. 

Comments